Selasa, September 15, 2009
Aditya S.Arnanto
Seorang manusia yang memiliki mimpi yang tinggi. Mengikuti mimpi dan hati untuk membagikan kebahagiaan di bumi. Berharap dapat mengubah dunia menjadi lebih baik.
Sabtu, Mei 23, 2009
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Written by webmaster
Jan 10, 2008 at 09:32 PM
Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat PAUD, 2004). Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980, namun implementasinya belum memasyarakat. Hasil penelitian Herawati (2002) di Bogor menemukan bahwa dari 265 keluarga yang diteliti, hanya terdapat 15% yang mengetahui program BKB. Faktor penentu lain dari kurang memasyarakatnya program BKB adalah rendahnya tingkat partisipasi orang tua. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Namun keberadaan program tersebut sampai saat ini belum menjangkau tingkat pedesaan secara merata, sehingga belum dapat diakses langsung oleh masyarakat.
Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Di Indonesia sesuai pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia telah ditempatkan sejajar dengan pendidikan lainnya. Bahkan pada puncak acara peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2003, Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan pelaksanaan pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia demi kepentingan terbaik anak Indonesia (Direktorat PAUD, 2004).
PAUD Berbasis Aqidah Islam
Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk generasi berkualitas pemimpin, yakni (1) berkepribadian Islam,(2) menguasai tsaqofah Islam, dan (3) menguasai ilmu kehidupan (sains dan teknologi) yang memadai. Apabila ke tiga tujuan ini tercapai, maka akan terwujudlah generasi pemimpin yang individunya memiliki ciri sebagai insan yang sholeh/sholehah, sehat, cerdas dan peduli bangsa.
Setiap orang harus siap untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan itu sebuah sunatullah dan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT kelak. Sebagaimana ditegaskan didalam sabda Rasulullah SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya... (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar).
Upaya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam ini sangat erat kaitannya dengan sistem hidup Islam. Sebagai bagian yang menyatu (integral) dari sistem kehidupan Islam, pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut. Sementara sub-sub sistem yang membentuk sistem pendidikan antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri, anak didik (pelajar/mahasiswa), manajemen, struktur dan jadwal waktu, materi, tenaga pendidik/pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian dan biaya pendidikan.
Interaksi fungsional antar subsistem pendidikan dikenal sebagai proses pendidikan. Proses pendidikan dapat terjadi di mana saja, sehingga berdasarkan pengorganisasian serta struktur dan tempat terjadinya proses tersebut dikenal adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan dalam menjabarkan pencapaian tujuan pendidikan, maka keberadaan kurikulum pendidikan yang integral menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Kurikulum pendidikan integral sangatlah khas dan unik. Kurikulum ini memiliki ciri- ciri yang sangat menonjol pada arah, azas, dan tujuan pendidikan, unsur-unsur pelaksana pendidikan serta pada struktur kurikulumnya.
Azas pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Azas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi diantara semua komponen penyelenggara pendidikan. Yang dimaksud dengan menjadikan aqidah Islam sebagai azas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah menjadikan aqidah Islam sebagai standar penilaian. Dengan istilah lain, aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan. Oleh sebab itu, implementasi pendidikan anak usia dini adalah PAUD BAI.
Pihak-Pihak yang Berperan dalam PAUD
Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan anak usia dini adalah pemerintah (negara), masyarakat dan keluarga. Keluarga adalah institusi pertama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar?dasar kepribadian anak dibangun. Anak dibimbing bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta Allah SWT. Demikian pula dengan pengajaran perilaku dan budi pekerti anak yang didapatkan dari sikap keseharian orangtua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajarkan untuk memilih kalimat?kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas dipersiapkan oleh keluarga.
Masyarakat yang menjadi lingkungan anak menjalani aktivitas sosialnya mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena anak satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik maupun biologis. Oleh sebab itu masalah?masalah yang akan dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat harus difahami agar kita dapat mengupayakan solusinya. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, tatkala masing?masing memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi maka semua orang akan sepakat memandang mana perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi. Sedapat mungkin perkara negatif yang akan menjerumuskan anak akan dicegah bersama. Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi.
Selain keluarga dan sekolah, partai dan organisasi masyarakat seperti majelis ta’lim, mempunyai peran dalam melahirkan generasi berkualitas pemimpin. Disanalah generasi akan dibina untuk menjadi politikus yang ulung dan tangguh. Oleh sebab itu, partai dan ormas ini juga berperan dalam membina para ibu agar ibu dapat mendidik generasi secara baik dan benar. Dari seluruh pihak yang mempunyai tanggungjawab dalam mendidik generasi cerdas, generasi peduli bangsa, tentu negaralah yang mempunyai peran terbesar dan terpenting dalam menjamin berlangsungnya proses pendidikan generasi.
Negara bertanggung jawab mengatur suguhan yang ditayangkan dalam media elektronik dan juga mengatur dan mengawasi penerbitan seluruh media cetak. Negara berkewajiban menindak perilaku penyimpangan yang berdampak buruk pada masyarakat dll. Negara sebagai penyelenggara pendidikan generasi yang utama, wajib mencukupi segala sarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan umat secara layak. Atas dasar ini negara wajib menyempurnakan pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya. Kebijakan pendidikan bebas biaya akan membuka peluang yang sebesar?besarnya bagi setiap individu rakyat untuk mengenyam pendidikan, sehingga pendidikan tidak hanya menyentuh kalangan tertentu (yang mampu) saja, dan tidak lagi dijadikan ajang bisnis yang bisa mengurangi mutu pendidikan itu sendiri. Padahal mutu pendidikan sangat mempengaruhi corak generasi yang dihasilkannya.
Negara wajib menyediakan tenaga-tenaga pendidik yang handal. Mereka yang memiliki kepribadian Islam yang luhur, punya semangat pengabdian yang tinggi dan mengerti filosofi pendidikan generasi serta cara?cara yang harus dilakukannya, karena mereka adalah tauladan bagi anak didiknya. Kelemahan sifat pada pendidik berpengaruh besar terhadap pola pendidikan generasi. Seorang guru tidak hanya menjadi penyampai ilmu pada muridnya tetapi ia seorang pendidik dan pembina generasi. Agar para pendidik bersemangat dalam menjalankan tugasnya tentu saja negara harus menjamin kehidupan materi mereka. Ini dapat memberi motivasi lebih pada mereka meski tugas mereka tidak ditujukan semata untuk memperoleh materi, tetapi merupakan ibadah yang mempunyai nilai tersendiri di sisi Allah SWT. Betapa besar jasa para pendidik yang hingga ada ungkapan: "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa". Tentu saja pengabdian mereka harus mendapat penghargaan, dan ini merupakan tanggungjawab negara.
Written by webmaster
Jan 10, 2008 at 09:32 PM
Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat PAUD, 2004). Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980, namun implementasinya belum memasyarakat. Hasil penelitian Herawati (2002) di Bogor menemukan bahwa dari 265 keluarga yang diteliti, hanya terdapat 15% yang mengetahui program BKB. Faktor penentu lain dari kurang memasyarakatnya program BKB adalah rendahnya tingkat partisipasi orang tua. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Namun keberadaan program tersebut sampai saat ini belum menjangkau tingkat pedesaan secara merata, sehingga belum dapat diakses langsung oleh masyarakat.
Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Di Indonesia sesuai pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia telah ditempatkan sejajar dengan pendidikan lainnya. Bahkan pada puncak acara peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2003, Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan pelaksanaan pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia demi kepentingan terbaik anak Indonesia (Direktorat PAUD, 2004).
PAUD Berbasis Aqidah Islam
Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk generasi berkualitas pemimpin, yakni (1) berkepribadian Islam,(2) menguasai tsaqofah Islam, dan (3) menguasai ilmu kehidupan (sains dan teknologi) yang memadai. Apabila ke tiga tujuan ini tercapai, maka akan terwujudlah generasi pemimpin yang individunya memiliki ciri sebagai insan yang sholeh/sholehah, sehat, cerdas dan peduli bangsa.
Setiap orang harus siap untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan itu sebuah sunatullah dan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT kelak. Sebagaimana ditegaskan didalam sabda Rasulullah SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya... (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar).
Upaya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam ini sangat erat kaitannya dengan sistem hidup Islam. Sebagai bagian yang menyatu (integral) dari sistem kehidupan Islam, pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut. Sementara sub-sub sistem yang membentuk sistem pendidikan antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri, anak didik (pelajar/mahasiswa), manajemen, struktur dan jadwal waktu, materi, tenaga pendidik/pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian dan biaya pendidikan.
Interaksi fungsional antar subsistem pendidikan dikenal sebagai proses pendidikan. Proses pendidikan dapat terjadi di mana saja, sehingga berdasarkan pengorganisasian serta struktur dan tempat terjadinya proses tersebut dikenal adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan dalam menjabarkan pencapaian tujuan pendidikan, maka keberadaan kurikulum pendidikan yang integral menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Kurikulum pendidikan integral sangatlah khas dan unik. Kurikulum ini memiliki ciri- ciri yang sangat menonjol pada arah, azas, dan tujuan pendidikan, unsur-unsur pelaksana pendidikan serta pada struktur kurikulumnya.
Azas pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Azas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi diantara semua komponen penyelenggara pendidikan. Yang dimaksud dengan menjadikan aqidah Islam sebagai azas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah menjadikan aqidah Islam sebagai standar penilaian. Dengan istilah lain, aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan. Oleh sebab itu, implementasi pendidikan anak usia dini adalah PAUD BAI.
Pihak-Pihak yang Berperan dalam PAUD
Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan anak usia dini adalah pemerintah (negara), masyarakat dan keluarga. Keluarga adalah institusi pertama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar?dasar kepribadian anak dibangun. Anak dibimbing bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta Allah SWT. Demikian pula dengan pengajaran perilaku dan budi pekerti anak yang didapatkan dari sikap keseharian orangtua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajarkan untuk memilih kalimat?kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas dipersiapkan oleh keluarga.
Masyarakat yang menjadi lingkungan anak menjalani aktivitas sosialnya mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena anak satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik maupun biologis. Oleh sebab itu masalah?masalah yang akan dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat harus difahami agar kita dapat mengupayakan solusinya. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, tatkala masing?masing memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi maka semua orang akan sepakat memandang mana perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi. Sedapat mungkin perkara negatif yang akan menjerumuskan anak akan dicegah bersama. Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi.
Selain keluarga dan sekolah, partai dan organisasi masyarakat seperti majelis ta’lim, mempunyai peran dalam melahirkan generasi berkualitas pemimpin. Disanalah generasi akan dibina untuk menjadi politikus yang ulung dan tangguh. Oleh sebab itu, partai dan ormas ini juga berperan dalam membina para ibu agar ibu dapat mendidik generasi secara baik dan benar. Dari seluruh pihak yang mempunyai tanggungjawab dalam mendidik generasi cerdas, generasi peduli bangsa, tentu negaralah yang mempunyai peran terbesar dan terpenting dalam menjamin berlangsungnya proses pendidikan generasi.
Negara bertanggung jawab mengatur suguhan yang ditayangkan dalam media elektronik dan juga mengatur dan mengawasi penerbitan seluruh media cetak. Negara berkewajiban menindak perilaku penyimpangan yang berdampak buruk pada masyarakat dll. Negara sebagai penyelenggara pendidikan generasi yang utama, wajib mencukupi segala sarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan umat secara layak. Atas dasar ini negara wajib menyempurnakan pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya. Kebijakan pendidikan bebas biaya akan membuka peluang yang sebesar?besarnya bagi setiap individu rakyat untuk mengenyam pendidikan, sehingga pendidikan tidak hanya menyentuh kalangan tertentu (yang mampu) saja, dan tidak lagi dijadikan ajang bisnis yang bisa mengurangi mutu pendidikan itu sendiri. Padahal mutu pendidikan sangat mempengaruhi corak generasi yang dihasilkannya.
Negara wajib menyediakan tenaga-tenaga pendidik yang handal. Mereka yang memiliki kepribadian Islam yang luhur, punya semangat pengabdian yang tinggi dan mengerti filosofi pendidikan generasi serta cara?cara yang harus dilakukannya, karena mereka adalah tauladan bagi anak didiknya. Kelemahan sifat pada pendidik berpengaruh besar terhadap pola pendidikan generasi. Seorang guru tidak hanya menjadi penyampai ilmu pada muridnya tetapi ia seorang pendidik dan pembina generasi. Agar para pendidik bersemangat dalam menjalankan tugasnya tentu saja negara harus menjamin kehidupan materi mereka. Ini dapat memberi motivasi lebih pada mereka meski tugas mereka tidak ditujukan semata untuk memperoleh materi, tetapi merupakan ibadah yang mempunyai nilai tersendiri di sisi Allah SWT. Betapa besar jasa para pendidik yang hingga ada ungkapan: "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa". Tentu saja pengabdian mereka harus mendapat penghargaan, dan ini merupakan tanggungjawab negara.
Kamis, Maret 12, 2009
biography
Aku adalah seorang anak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini di Jakarta tepatnya di RS RESTU pada tanggal “15 September 1989’dan diberi nama ADITYA SEPTIADI ARNANTO……Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara….. agamaku Islam dan mempunyai hobi musik dan nonton…
Saat aku berumur 2 tahun,,, ketikla itu hujan turun… Aku dan ibuku duduk di depan teras rumah…. Karena senangnya melihat hujan,, aku terjatuh dari bangku ke tanah dan muka ku penuh dangan Lumpur….hahahahaha
Hari demi hari tlah berlalu…. Tak terasa usia ku semakin bertambah….
Usiaku tlah menginjak 4 tahun… Tepatnya tanggal 28 Maret 1993,,, aku di beri seorang adik laki-laki yang bernama “Cahya Mulia Arnanto”…. Saya sangat senang sekali karena saya menjadi seorang kakak…
Pada bulan July 1994,,, saya mulai belajar di tempat yang seharusnya buat belajar… hahaha. . .aku masuk TK… horeeee…..
Sekolah pertama aku adalah TK ASY-SYIFA….
Disana aku mempunyai banyak pengalaman.........
Aku menjadi juara lomba mewarnai di TMII… aku sangat bangga dengan prestasi tersebut…
Selain itu,,, ada pengalaman yang tidak bisa aku lupakan… aku menjadi pemimpin upacara dan aku gak seriuz saat itu shingga di marahin sama ibu guru….
Setahun telah berlalu,,,,,, aku pun lulus dari TK….
Aku melanjutkan sekolah ku di SDN JATIMURNI III…….
Disana aku mempunyai banyak teman-teman baru…
Pada kelas satu,,, aku mendapat peringkat 7….
Dikelas 2,,, salah satu sahabatku yang bernama riva’I,,, pindah dan tidak sekolah bareng dgn dia lagi…
Pada kelas 4,,,, aku mengikuti dokter cilik…. Setelah pelatihan,, aku dan teman-teman ku berugas piket di UKS sekolah…
Pada kelas 5,,, aku kembali kehilangan sahabat ku yang bernama rahmat iskandar yang biasa di panggil iis karena dia pindah rumah ke jonggol…. Kami semua sedih karena banyak hal yang kita lalui bersama…
Dan di kelas terakhir di sekolah dasar atau kelas 6 SD… aku mendapat teman batu yang bernama Purnomo Yasin ASB yang menjadi shabat ku hingga sekarang…
Tak terasa hampir enam tahun aku bersekolah di sana…
Dan tibalah detik-detik Ebtanas…..
Aku dan teman-teman belajar dengan seriuz …. Kami sudah mempersiapkan dengan matang….
Tapi,,,sehari sebelum hari ujian tiba…….. aku di ajak ngadu bola dengan anak kampong sebelah… tanpa piir panjang lagi,,, aku meng-iyakan ajakan teman-teman ku…
Setelah pertandingan berakhir,,, akuberu sadar klo besok itu Ebtanas…. Karena leleh,,, aku tidur dan tidak belajar…
Alhamdulillah…. Aku bisa menyelesaikan soal-soal tersebut dengan baik.. dan aku mendapat NEM 40,25….
Kami mengadakan perpisahan SD dengan jalan-jalan ke Cibodas…
Disana kami have fun, foto-foto, bersuka ria dan bertukar kado…
Akhirnya masa-masa SD pun berakhir….
Dengan bekal NEM 40,25,,, aku melanjutkan ke tingkat berikutnya…
Akhirnya,,, aku nyangkut di SMP Negeri 259 Jakarta…
Karena letak SMP ku dekat dengan TMII,, aku sering main ke TMII dengan gratis… hehehe
Aku masuk di kelas 1-2… ternyata SMP itu berbeda dengan SD… Bell nya berderingnya banyak sekali…. Pertama-tama aku bingung karena di SD bell dibunyikan untuk menandakan masuk, istirahat dan pulang sekolah....
Setahun tlah berlalu dan akupun naik kelaske kelas 2.. aku masuk di kelas 2-2…
Disana aku mulai menyenangi SMP mulai dari sekolah, teman , pelajaran, sampai sesuatu yang aku semangi hingga sekarang… yaitu “wanita”…. Hahahahaha
Di kelas 3 SMP,,, aku masuk dikelas 3-2…
Disana aku memiliki teman –teman yang sangat kompak… sampai-sampai nilai ulangan kami pun mendapat nilai yang bagus….
Takterasa masa SMP pun mulai habis…
Aku mulai tegang menghadapi UAN karena pada angkatan ku pemerintahmenetapkan kebijakan nilai terendah sehingga ada criteria yang harus dipenuhi jika mau lulus……
Akupun belajar dengan giat dan akhirnya aku lulus dengan NEM (klo gak salah) 22,03…
Ada hal yang aku sesalkan hingga sekarang di SMP….
Aku merasa gak enak dengan sahabat ku karena telah merebut pacarnya …. Hehehe
Selain itu,,, aku juga memutuskan silaturahmi dengan salah satu teman yang ingin mendekatiku karena aku tidak enak dengan orang yang dekat dengan dia……
Tapi hidip harus tetap berjalan ke depan…..
Kembali ke cerita NEM,,,
Akhirnya dengan nilai segitu aku di terima di SMA Negeri 67 Jakarta…..
Saat MOS,,, aku masuk kelas 1-I dan kelompok ku menang dalam lomba kreatifitas….
Saat sekolah,,, aku masuk di kelas X-4… teman pertama aku di kelas ersebut adalah Iman Gozali….
aku pernah dimarahin sama guru sejarah gara-gara ketauan nge-bet buku saat ulangan…
lanjut ke kelas 2… aku masuk di kelas XI-Sos3
disana aku bertemu dengan teman-teman yang beraneka ragam….
Disana aku memilki partner kerja yang apabila ulangan,,, kami tiodak pernah remedial sehingga kami masuk ke golongan anak-anak pintar….. hehehehehehehe
Partner itu bernama Iiz dan Nandi….
Pokoknya mantablah…
Di kelas tersebut,, anak-anak kelas mendirikan genk yang bernama “Genk Busung Lapar”….
Alasan dinamakan demikian,,, karena apabila ada anak kelas yang jajan,,, mereka pada minta-minta gitu…. Hehehehehe
Genk yang aneh !!!!
Di kelas ini aku memiliki banyak kenangan yang lucu-lucu…..
Akhirnya masa itupun berlalu dan aku naik ke kelas tiga…
Aku masuk ke kelas XII Sos 1 dimana guru-guru menyebut kelas tersebut dengan julukan kelas unggulan
Disana aku memiliki sahabat yang dekat sehingga apabila ada tugas kelompok,, kami slalu bersama dan mendapat nilai yang baguss…
Sahabat dekatku saat itu adalah Yasin, Andhika, Rudi, Heru, Rifky….
Kemana-mana kami slalu bersama…
Pengalaman paling mengesankan adalah ketika kami mendapat tugas untuk mewawancarai “bule”… kami jalan-jalan ke citoz,, jalan jaksa dll demi memburu bule tersebut…
Ketika menjelang akhir sekolah, kami melakukan belajar kelompok dan akhirnya kami lulusw dengan hasil yang memuaskan…
Sekarang kami telah kuliah di kampus yang berbeda tetapi persahabatan kami tetap solid…
Dan aku sekarang kuliah di UNJ
Saat aku berumur 2 tahun,,, ketikla itu hujan turun… Aku dan ibuku duduk di depan teras rumah…. Karena senangnya melihat hujan,, aku terjatuh dari bangku ke tanah dan muka ku penuh dangan Lumpur….hahahahaha
Hari demi hari tlah berlalu…. Tak terasa usia ku semakin bertambah….
Usiaku tlah menginjak 4 tahun… Tepatnya tanggal 28 Maret 1993,,, aku di beri seorang adik laki-laki yang bernama “Cahya Mulia Arnanto”…. Saya sangat senang sekali karena saya menjadi seorang kakak…
Pada bulan July 1994,,, saya mulai belajar di tempat yang seharusnya buat belajar… hahaha. . .aku masuk TK… horeeee…..
Sekolah pertama aku adalah TK ASY-SYIFA….
Disana aku mempunyai banyak pengalaman.........
Aku menjadi juara lomba mewarnai di TMII… aku sangat bangga dengan prestasi tersebut…
Selain itu,,, ada pengalaman yang tidak bisa aku lupakan… aku menjadi pemimpin upacara dan aku gak seriuz saat itu shingga di marahin sama ibu guru….
Setahun telah berlalu,,,,,, aku pun lulus dari TK….
Aku melanjutkan sekolah ku di SDN JATIMURNI III…….
Disana aku mempunyai banyak teman-teman baru…
Pada kelas satu,,, aku mendapat peringkat 7….
Dikelas 2,,, salah satu sahabatku yang bernama riva’I,,, pindah dan tidak sekolah bareng dgn dia lagi…
Pada kelas 4,,,, aku mengikuti dokter cilik…. Setelah pelatihan,, aku dan teman-teman ku berugas piket di UKS sekolah…
Pada kelas 5,,, aku kembali kehilangan sahabat ku yang bernama rahmat iskandar yang biasa di panggil iis karena dia pindah rumah ke jonggol…. Kami semua sedih karena banyak hal yang kita lalui bersama…
Dan di kelas terakhir di sekolah dasar atau kelas 6 SD… aku mendapat teman batu yang bernama Purnomo Yasin ASB yang menjadi shabat ku hingga sekarang…
Tak terasa hampir enam tahun aku bersekolah di sana…
Dan tibalah detik-detik Ebtanas…..
Aku dan teman-teman belajar dengan seriuz …. Kami sudah mempersiapkan dengan matang….
Tapi,,,sehari sebelum hari ujian tiba…….. aku di ajak ngadu bola dengan anak kampong sebelah… tanpa piir panjang lagi,,, aku meng-iyakan ajakan teman-teman ku…
Setelah pertandingan berakhir,,, akuberu sadar klo besok itu Ebtanas…. Karena leleh,,, aku tidur dan tidak belajar…
Alhamdulillah…. Aku bisa menyelesaikan soal-soal tersebut dengan baik.. dan aku mendapat NEM 40,25….
Kami mengadakan perpisahan SD dengan jalan-jalan ke Cibodas…
Disana kami have fun, foto-foto, bersuka ria dan bertukar kado…
Akhirnya masa-masa SD pun berakhir….
Dengan bekal NEM 40,25,,, aku melanjutkan ke tingkat berikutnya…
Akhirnya,,, aku nyangkut di SMP Negeri 259 Jakarta…
Karena letak SMP ku dekat dengan TMII,, aku sering main ke TMII dengan gratis… hehehe
Aku masuk di kelas 1-2… ternyata SMP itu berbeda dengan SD… Bell nya berderingnya banyak sekali…. Pertama-tama aku bingung karena di SD bell dibunyikan untuk menandakan masuk, istirahat dan pulang sekolah....
Setahun tlah berlalu dan akupun naik kelaske kelas 2.. aku masuk di kelas 2-2…
Disana aku mulai menyenangi SMP mulai dari sekolah, teman , pelajaran, sampai sesuatu yang aku semangi hingga sekarang… yaitu “wanita”…. Hahahahaha
Di kelas 3 SMP,,, aku masuk dikelas 3-2…
Disana aku memiliki teman –teman yang sangat kompak… sampai-sampai nilai ulangan kami pun mendapat nilai yang bagus….
Takterasa masa SMP pun mulai habis…
Aku mulai tegang menghadapi UAN karena pada angkatan ku pemerintahmenetapkan kebijakan nilai terendah sehingga ada criteria yang harus dipenuhi jika mau lulus……
Akupun belajar dengan giat dan akhirnya aku lulus dengan NEM (klo gak salah) 22,03…
Ada hal yang aku sesalkan hingga sekarang di SMP….
Aku merasa gak enak dengan sahabat ku karena telah merebut pacarnya …. Hehehe
Selain itu,,, aku juga memutuskan silaturahmi dengan salah satu teman yang ingin mendekatiku karena aku tidak enak dengan orang yang dekat dengan dia……
Tapi hidip harus tetap berjalan ke depan…..
Kembali ke cerita NEM,,,
Akhirnya dengan nilai segitu aku di terima di SMA Negeri 67 Jakarta…..
Saat MOS,,, aku masuk kelas 1-I dan kelompok ku menang dalam lomba kreatifitas….
Saat sekolah,,, aku masuk di kelas X-4… teman pertama aku di kelas ersebut adalah Iman Gozali….
aku pernah dimarahin sama guru sejarah gara-gara ketauan nge-bet buku saat ulangan…
lanjut ke kelas 2… aku masuk di kelas XI-Sos3
disana aku bertemu dengan teman-teman yang beraneka ragam….
Disana aku memilki partner kerja yang apabila ulangan,,, kami tiodak pernah remedial sehingga kami masuk ke golongan anak-anak pintar….. hehehehehehehe
Partner itu bernama Iiz dan Nandi….
Pokoknya mantablah…
Di kelas tersebut,, anak-anak kelas mendirikan genk yang bernama “Genk Busung Lapar”….
Alasan dinamakan demikian,,, karena apabila ada anak kelas yang jajan,,, mereka pada minta-minta gitu…. Hehehehehe
Genk yang aneh !!!!
Di kelas ini aku memiliki banyak kenangan yang lucu-lucu…..
Akhirnya masa itupun berlalu dan aku naik ke kelas tiga…
Aku masuk ke kelas XII Sos 1 dimana guru-guru menyebut kelas tersebut dengan julukan kelas unggulan
Disana aku memiliki sahabat yang dekat sehingga apabila ada tugas kelompok,, kami slalu bersama dan mendapat nilai yang baguss…
Sahabat dekatku saat itu adalah Yasin, Andhika, Rudi, Heru, Rifky….
Kemana-mana kami slalu bersama…
Pengalaman paling mengesankan adalah ketika kami mendapat tugas untuk mewawancarai “bule”… kami jalan-jalan ke citoz,, jalan jaksa dll demi memburu bule tersebut…
Ketika menjelang akhir sekolah, kami melakukan belajar kelompok dan akhirnya kami lulusw dengan hasil yang memuaskan…
Sekarang kami telah kuliah di kampus yang berbeda tetapi persahabatan kami tetap solid…
Dan aku sekarang kuliah di UNJ
Langganan:
Komentar (Atom)
